Sampai kata-kata yang tak terucapkan ini selesai dirangkai..
Sampai sofa tua-merah-coklat favorit kita lelah menampung tawa yang bderai..
aku akan terus memintamu untuk tetap tinggal..
karena aku begitu rindu..
Rindu yang mendendam..
17 Juli 2009
Bulan Sabit...
Bulan sabit..bsinar
Cantik..diantara benderang lampu2 jalan dmakassar
Tdkkah ia kesepian?
Atau mrasa bosan?
Bgelantungan dlm slimut langit malam..
Sendiri..krn sinarx mbuat para bintang iri
Dia pasti ksepian..sdirian dtgh kramaian lampu jalanan
dan pasti mrasa bosan..krn kcantiknx mbuat stiap phuni langit segan
Tdkkah ia lelah?
Atau merasa marah?
Harus slalu bpisah dgn kekasihnya..
Pdhal para pecinta..bcinta dbwh limpahan cahayax
Hm..
ya..dy lelah pun marah
tp tetap tdk boleh mengadu pd siapa2..
Krn itu mmg sdh takdirx..
Takdir mereka..
Hertasning, 27 Juni 2009
Cantik..diantara benderang lampu2 jalan dmakassar
Tdkkah ia kesepian?
Atau mrasa bosan?
Bgelantungan dlm slimut langit malam..
Sendiri..krn sinarx mbuat para bintang iri
Dia pasti ksepian..sdirian dtgh kramaian lampu jalanan
dan pasti mrasa bosan..krn kcantiknx mbuat stiap phuni langit segan
Tdkkah ia lelah?
Atau merasa marah?
Harus slalu bpisah dgn kekasihnya..
Pdhal para pecinta..bcinta dbwh limpahan cahayax
Hm..
ya..dy lelah pun marah
tp tetap tdk boleh mengadu pd siapa2..
Krn itu mmg sdh takdirx..
Takdir mereka..
Hertasning, 27 Juni 2009
Buatkan aku puisi sayang..sementara aku buatkan kamu secangkir susu..
Pagi ini cuaca mendung..
Tapi nanti juga cerah,ini hari jumat..
Kau minta aku buatkan secangkir susu yang nikmat..
Kucoba bcakap-cakap denganmu..
Tapi kau minum susumu,ini rasa cinta..
Lalu kupinta kau buatkan aku sebuah puisi tentangnya..
'Kekasihku..aku mcintaimu pagi ini,sejak dulu sampai kapanpun jg'
Itu saja yang kau tulis,begitu singkat..
Tp aku bahagia tercekat..
Saat kau minum susu rasa cinta itu..
Aku jatuh cinta padamu..
Selalu saja begitu..
*ditulis dengan rasa terimakasih untuk imajinasi yang luas tanpa batas yang kau tularkan padaku..
Hertasning, 3 Juli 2009
Tapi nanti juga cerah,ini hari jumat..
Kau minta aku buatkan secangkir susu yang nikmat..
Kucoba bcakap-cakap denganmu..
Tapi kau minum susumu,ini rasa cinta..
Lalu kupinta kau buatkan aku sebuah puisi tentangnya..
'Kekasihku..aku mcintaimu pagi ini,sejak dulu sampai kapanpun jg'
Itu saja yang kau tulis,begitu singkat..
Tp aku bahagia tercekat..
Saat kau minum susu rasa cinta itu..
Aku jatuh cinta padamu..
Selalu saja begitu..
*ditulis dengan rasa terimakasih untuk imajinasi yang luas tanpa batas yang kau tularkan padaku..
Hertasning, 3 Juli 2009
17 Mei 2009
WARNING!!!
kepada seluruh pembaca atau y ga sengaja nyasar k blog ini n bharap ingin mendapatkan sesuatu y 'menarik' untuk dbaca..
sebelum harapan anda melambung tlalu jauh...maka sebagai seorang pemilik blog yang baik n btanggungjawab...
saya HARUS memperingatkan anda terlebih dahulu...
bahwa segala sesuatu yang saya tulis diblog ini sama sekali tidak didasari niat untuk menghadirkan tulisan2 y 'menarik' menurut anda2 sekalian..
tp lebih didasari dengan niat untuk 'bbagi' tulisan2 y saya anggap menarik..^^
karena isi dari blog ini kurang lebih hanyalah 'serba-serbi dari cerita sehari-hari seorang mahasiswa fakultas hukum yang suka sapi n mencintai jerapah..^^V...suka belajar n mencintai liburan..suka masak n mencintai makan..n suka2 lainnya y akan anda tau sendiri setelah membaca postingan2 berikutx..
lalu saya juga HARUS memperingatkan...tulisan2 saya tidak didasari niat untuk membuat anda2 menyukai saya ataupun tulisan2 saya..
jadi saya tidak bertanggungjawab atas sgala sesuatu y tkait dengan perubahan perasaan anda ttg saya maupun tulisan saya setelah membaca postingan2 saya berikutnya..
Selamat Membaca...^^
sebelum harapan anda melambung tlalu jauh...maka sebagai seorang pemilik blog yang baik n btanggungjawab...
saya HARUS memperingatkan anda terlebih dahulu...
bahwa segala sesuatu yang saya tulis diblog ini sama sekali tidak didasari niat untuk menghadirkan tulisan2 y 'menarik' menurut anda2 sekalian..
tp lebih didasari dengan niat untuk 'bbagi' tulisan2 y saya anggap menarik..^^
karena isi dari blog ini kurang lebih hanyalah 'serba-serbi dari cerita sehari-hari seorang mahasiswa fakultas hukum yang suka sapi n mencintai jerapah..^^V...suka belajar n mencintai liburan..suka masak n mencintai makan..n suka2 lainnya y akan anda tau sendiri setelah membaca postingan2 berikutx..
lalu saya juga HARUS memperingatkan...tulisan2 saya tidak didasari niat untuk membuat anda2 menyukai saya ataupun tulisan2 saya..
jadi saya tidak bertanggungjawab atas sgala sesuatu y tkait dengan perubahan perasaan anda ttg saya maupun tulisan saya setelah membaca postingan2 saya berikutnya..
Selamat Membaca...^^
11 Mei 2009
Diorama Kehidupan Anak Kost
Oleh : Faudzan Farhana
Bagi seorang anak, belaian kasih dan perlindungan orangtua merupakan hal dasar yang dapat menguatkannya dalam melakukan segala aktivitasnya di luar rumah. Tanpa belaian kasih sayang dan perlindungan orangtua, anak akan terlihat seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya, kebingungan dan ketakutan.
Perasaan kebingungn dan ketakutan inilah yang sering muncul pertama kali saat berada dalam sebuah ruangan kecil berukuran 2x1,5 m yang bernama “kamar kost” dan sendirian tanpa seorang keluarga pun yang menemani. Terkadang perasaan ini berbaur dengan euforia kebebasan dan beban kemandirian yang juga lazim muncul saat berada jauh dari orangtua.
Berdasarkan cerita dari berbagai teman yang menjalani kehidupan kost, ada hal-hal yang menjadi suka dan duka hidup di kost. Diantara sukanya yaitu : boleh pergi berjalan-jalan kapan saja, kemana saja, dengan siapa saja, dan pulang pukul berapa saja disebabkan karena tidak ada lagi orangtua yang mengawasi. Selain itu, hidup di kost membuat kita dapat berlama-lama bercengkrama bersama teman-teman, bebas berdiskusi sampai larut malam, dan tanpa ada yang melarang. Tidak ada seorang ibu yang cerewet, ayah yang sok tahu, maupun saudara yang tidak tahu diri, semuanya terserah kita. Seseorang yang menjalani kehidupan kost biasanya akan lebih mandiri dan bertanggungjawab dibandingkan dengan orang-orang yang tidak menjalaninya. Hal ini dimungkinkan sebab seorang anak kost mau tidak mau harus belajar untuk mengatur kehidupannya sendiri, makan sendiri, mencuci baju sendiri, membersihkan kamar, dsbnya .
Tak lepas dari suka, maka duka anak kost pun beragam. Seorang teman pernah mengeluhkan kepada saya bahwa ada saat-saat dimana kita merasa butuh sebentuk perhatian dan penghargaan dari orangtua dan keluarga dalam menyelesaikan masalah, namun mereka tidak ada. Sementara kondisi teman serumah (satu kost-an) cuek bebek dan tidak peduli, saat rasa rindu untuk kembali pulang semakin menjadi namun kesibukan kuliah memaksa untuk bertahan, saat ucapan dan pendapat kita yang bila di rumah selalu mendapatkan apresiasi namun ketika di dunia kost-an seolah-olah tidak berarti, saat tagihan-tagihan dan kebutuhan-kebutuhan hidup serasa mencekik leher namun kiriman uang dari kampung belum juga datang. Maka saat-saat itulah hidup sebagai anak kost menjadi tidak menyenangkan sebagaimana yang dibayangkan sebagian besar orang.
Tinggal sendiri tanpa pengawasan orangtua jelas menimbulkan tanggung jawab – tanggung jawab moriil kepada diri sendiri. Seiring dengan bertambahnya usia, kita harus belajar bagaimana dapat menyelenggarakan kehidupan sebaik-baiknya dengan sesedikit mengkin mengeluh atau meminta bantuan kepada orangtua. Menurut penulis keadaan inilah yang kemudian menuntut kita untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan kita. Sebelum dicuekin, sebaiknya sejak awal kita sudah harus menjalin hubungan yang baik (bersosialisasi-red), kalau perlu akrab dengan teman-teman yang satu rumah serta ibu pengasuh atau ibu kost. Hal ini wajib karena merekalah orang terdekat yang pertama kali dapat kita mintai pertolongan bila terjadi masalah dikemudian hari. Bergaul dengan sebanyak mungkin masyarakat sekitar, seperti penjual galon, mas-mas tukang sayur dan tempe, ibu-ibu yang menjual di kantin, bahkan tukang ojek, terkadang juga dapat bermanfaat dikemudian hari (misalnya tak jarang kita bisa ngutang dulu sama mereka kalau ingin memenuhi kebutuhan hidup, namun kiriman bulanan bulan datang^^).
Selain itu, kita juga harus mengembangkan sikap disiplin dalam mengatur waktu dan uang agar kehidupan kita menjadi lebih teratur dan ‘aman’. Maksud dari kata aman di sini terhindar dari pesoalan-persoalan kecil berakibat fatal yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Misalnya dalam hal mengatur waktu. Biasanya, saat tinggal sendiri tanpa pengawasan orangtua kita lebih bebas keluar dan bergaul dengan teman-teman, entah dengan teman serumah, maupun dengan teman-teman lainnya. Terkadang, waktu untuk bergaul itu menghabiskan hampir 90 % waktu kita dalam sehari, padahal tujuan kita datang ke kota ini, hingga harus susah-susah pisah rumah dengan keluarga adalah untuk menuntut ilmu dan belajar. Sering kali terjadi, kita lebih mendahulukan bergaul dibanding dengan mengerjakan tugas-tugas dari kampus dan belajar, dan hal ini dapat berakibat fatal pada nilai-nilai mata kuliah. Padahal hal ini sama sekali tidak perlu terjadi. Bila kita pandai dan disiplin dalam mengatur waktu, kita dapat menjalani sekaligus kehidupan anak kost sebagai mahasiswa dan juga anak gaul tanpa merugikan salah satu di antara keduanya.
Hal serupa juga berlaku dalam hal pengaturan keuangan. Sering terjadi apabila datang kiriman bulanan dari orangtua di kampung kita bersikap seperti orang kaya baru yang tidak tahu malu. Traktir sana, traktir sini, membelanjakannya untuk hal-hal yang tidak perlu dan kemudian pada pertengahan bulan sampai datang awal bulan baru tertatih – tatih, merana karena kehabisan uang. Masalah ini sama sekali tidak cool, oleh karena itu kita harus lebih bijaksana lagi dalam hal membelanjakan uang subsidi dari orangtua. Kalaupun subsidi tersebut dirasakan memang tidak cukup, apa salahnya berpikir kreatif untuk mencari uang tambahan dengan bekerja sambilan (sambilan artinya tidak menyita seluruh waktu, dan tidak menganggu perkuliahan) selama pekerjaan yang dilakukan berada dalam koridor halal.
Terakhir, masalah yang sepele namun juga penting adalah selektif dalam memilih teman. Di zaman di mana pergaulan bebas menjadi nge-trend ini, selektif dalam memilih teman adalah kunci utama yang paling menentukan seperti apa nanti wujud eksistensimu di dunia ini. Seperti nasihat para sufi bahwa “bergaul dengan penjual minyak wangi, maka kita akan mendapatkan percikan minyak wanginya. Namun bergaul dengan pandai besi, tak jarang kita mendapatkan percikan apinya,” seperti itu pula jika kita bergaul dengan teman. Bila teman-teman kita adalah orang-orang yang mempunyai semangat untuk mencapai keberhasilan yang tinggi, maka kemungkinan kita juga akan semangat untuk mencapai keberhasilan dalam hidup, sebaliknya bila teman-teman kita adalah orang-orang yang ngakunya gaul namun ternyata sibuk mendzalimi dirinya sendiri, maka kemungkinan besar kita juga akan menjadi seperti itu. Maka bergaullah dengan semua orang, namun selektiflah dalam memilih teman.
Bagi seorang anak, belaian kasih dan perlindungan orangtua merupakan hal dasar yang dapat menguatkannya dalam melakukan segala aktivitasnya di luar rumah. Tanpa belaian kasih sayang dan perlindungan orangtua, anak akan terlihat seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya, kebingungan dan ketakutan.
Perasaan kebingungn dan ketakutan inilah yang sering muncul pertama kali saat berada dalam sebuah ruangan kecil berukuran 2x1,5 m yang bernama “kamar kost” dan sendirian tanpa seorang keluarga pun yang menemani. Terkadang perasaan ini berbaur dengan euforia kebebasan dan beban kemandirian yang juga lazim muncul saat berada jauh dari orangtua.
Berdasarkan cerita dari berbagai teman yang menjalani kehidupan kost, ada hal-hal yang menjadi suka dan duka hidup di kost. Diantara sukanya yaitu : boleh pergi berjalan-jalan kapan saja, kemana saja, dengan siapa saja, dan pulang pukul berapa saja disebabkan karena tidak ada lagi orangtua yang mengawasi. Selain itu, hidup di kost membuat kita dapat berlama-lama bercengkrama bersama teman-teman, bebas berdiskusi sampai larut malam, dan tanpa ada yang melarang. Tidak ada seorang ibu yang cerewet, ayah yang sok tahu, maupun saudara yang tidak tahu diri, semuanya terserah kita. Seseorang yang menjalani kehidupan kost biasanya akan lebih mandiri dan bertanggungjawab dibandingkan dengan orang-orang yang tidak menjalaninya. Hal ini dimungkinkan sebab seorang anak kost mau tidak mau harus belajar untuk mengatur kehidupannya sendiri, makan sendiri, mencuci baju sendiri, membersihkan kamar, dsbnya .
Tak lepas dari suka, maka duka anak kost pun beragam. Seorang teman pernah mengeluhkan kepada saya bahwa ada saat-saat dimana kita merasa butuh sebentuk perhatian dan penghargaan dari orangtua dan keluarga dalam menyelesaikan masalah, namun mereka tidak ada. Sementara kondisi teman serumah (satu kost-an) cuek bebek dan tidak peduli, saat rasa rindu untuk kembali pulang semakin menjadi namun kesibukan kuliah memaksa untuk bertahan, saat ucapan dan pendapat kita yang bila di rumah selalu mendapatkan apresiasi namun ketika di dunia kost-an seolah-olah tidak berarti, saat tagihan-tagihan dan kebutuhan-kebutuhan hidup serasa mencekik leher namun kiriman uang dari kampung belum juga datang. Maka saat-saat itulah hidup sebagai anak kost menjadi tidak menyenangkan sebagaimana yang dibayangkan sebagian besar orang.
Tinggal sendiri tanpa pengawasan orangtua jelas menimbulkan tanggung jawab – tanggung jawab moriil kepada diri sendiri. Seiring dengan bertambahnya usia, kita harus belajar bagaimana dapat menyelenggarakan kehidupan sebaik-baiknya dengan sesedikit mengkin mengeluh atau meminta bantuan kepada orangtua. Menurut penulis keadaan inilah yang kemudian menuntut kita untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan kita. Sebelum dicuekin, sebaiknya sejak awal kita sudah harus menjalin hubungan yang baik (bersosialisasi-red), kalau perlu akrab dengan teman-teman yang satu rumah serta ibu pengasuh atau ibu kost. Hal ini wajib karena merekalah orang terdekat yang pertama kali dapat kita mintai pertolongan bila terjadi masalah dikemudian hari. Bergaul dengan sebanyak mungkin masyarakat sekitar, seperti penjual galon, mas-mas tukang sayur dan tempe, ibu-ibu yang menjual di kantin, bahkan tukang ojek, terkadang juga dapat bermanfaat dikemudian hari (misalnya tak jarang kita bisa ngutang dulu sama mereka kalau ingin memenuhi kebutuhan hidup, namun kiriman bulanan bulan datang^^).
Selain itu, kita juga harus mengembangkan sikap disiplin dalam mengatur waktu dan uang agar kehidupan kita menjadi lebih teratur dan ‘aman’. Maksud dari kata aman di sini terhindar dari pesoalan-persoalan kecil berakibat fatal yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Misalnya dalam hal mengatur waktu. Biasanya, saat tinggal sendiri tanpa pengawasan orangtua kita lebih bebas keluar dan bergaul dengan teman-teman, entah dengan teman serumah, maupun dengan teman-teman lainnya. Terkadang, waktu untuk bergaul itu menghabiskan hampir 90 % waktu kita dalam sehari, padahal tujuan kita datang ke kota ini, hingga harus susah-susah pisah rumah dengan keluarga adalah untuk menuntut ilmu dan belajar. Sering kali terjadi, kita lebih mendahulukan bergaul dibanding dengan mengerjakan tugas-tugas dari kampus dan belajar, dan hal ini dapat berakibat fatal pada nilai-nilai mata kuliah. Padahal hal ini sama sekali tidak perlu terjadi. Bila kita pandai dan disiplin dalam mengatur waktu, kita dapat menjalani sekaligus kehidupan anak kost sebagai mahasiswa dan juga anak gaul tanpa merugikan salah satu di antara keduanya.
Hal serupa juga berlaku dalam hal pengaturan keuangan. Sering terjadi apabila datang kiriman bulanan dari orangtua di kampung kita bersikap seperti orang kaya baru yang tidak tahu malu. Traktir sana, traktir sini, membelanjakannya untuk hal-hal yang tidak perlu dan kemudian pada pertengahan bulan sampai datang awal bulan baru tertatih – tatih, merana karena kehabisan uang. Masalah ini sama sekali tidak cool, oleh karena itu kita harus lebih bijaksana lagi dalam hal membelanjakan uang subsidi dari orangtua. Kalaupun subsidi tersebut dirasakan memang tidak cukup, apa salahnya berpikir kreatif untuk mencari uang tambahan dengan bekerja sambilan (sambilan artinya tidak menyita seluruh waktu, dan tidak menganggu perkuliahan) selama pekerjaan yang dilakukan berada dalam koridor halal.
Terakhir, masalah yang sepele namun juga penting adalah selektif dalam memilih teman. Di zaman di mana pergaulan bebas menjadi nge-trend ini, selektif dalam memilih teman adalah kunci utama yang paling menentukan seperti apa nanti wujud eksistensimu di dunia ini. Seperti nasihat para sufi bahwa “bergaul dengan penjual minyak wangi, maka kita akan mendapatkan percikan minyak wanginya. Namun bergaul dengan pandai besi, tak jarang kita mendapatkan percikan apinya,” seperti itu pula jika kita bergaul dengan teman. Bila teman-teman kita adalah orang-orang yang mempunyai semangat untuk mencapai keberhasilan yang tinggi, maka kemungkinan kita juga akan semangat untuk mencapai keberhasilan dalam hidup, sebaliknya bila teman-teman kita adalah orang-orang yang ngakunya gaul namun ternyata sibuk mendzalimi dirinya sendiri, maka kemungkinan besar kita juga akan menjadi seperti itu. Maka bergaullah dengan semua orang, namun selektiflah dalam memilih teman.
Belajar dari Sikap Pemerintah terhadap Kasus Enterobacter sakazakii
Oleh : Faudzan Fahana
Belakangan ini kalangan ibu-ibu rumah tangga diresahkan oleh adanya berita yang berkembang mengenai keberadaaan bakteri sakazakii yang diduga mencemari susu formula dan makanan bayi yang banyak beredar di lingkungan masyarakat Indonesia. Keresahan ini berawal saat beberapa peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengumumkan hasil temuan mereka bahwa 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara April - Juni 2006 telah terkontaminasi Enterobacter sakazakii. Sampel makanan dan susu formula yang diteliti berasal dari produk lokal yang banyak beredar dipasaran.
Enterobacter sakazakii adalah bakteri gram negatif yang tahan panas dan tidak membentuk spora. Secara klinis, cemaran enterobacter sakazakii menimbulkan diare yang bila tidak diobati dapat menimbulkan dehidrasi dan dapat berakibat fatal pada kesehatan bayi dan anak balita. Bakteri ini juga ditemukan dapat menyebabkan enteritis, sepsis dan meningitis pada bayi mencit dan kemungkinan besar dapat juga menimbulkan hal yang serupa pada bayi dan anak balita yang mengkonsumsi makanan dan susu yang telah tercemari bakteri tersebut.
Melihat bahaya yang ditimbulkannya, sudah sepantasnyalah para orangtua cemas. Pasalnya, sampai saat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menolak untuk mengumumkan merek-merek produk susu formula dan makanan bayi yang beredar, BPOM menyatakan tidak akan menindaklanjuti temuan susu mengandung bakteri dengan berbagai macam alasan. Tindakan ini penulis rasa mencerminkan betapa para pemegang kekuasaan di negara kita lebih mementingkan harga diri dan nama baik instansi dari pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya. Padahal, saat kasus yang hampir serupa terjadi di Australia, pemerintah yang berwenang di sana segera mengumumkan daftar produk yang dicurigai agar masyarakat segera menghentikan penggunaan produk dan memberikan pelajaran berharga bagi produsen produk tersebut untuk lebih memperhatikan kualitas produknya. Pemerintah Australia justru lebih berkomitmen dalam ‘mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,’ sepenggal tujuan hidup bangsa Indonesia yang tercantum dalam paragraf ke empat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Dengan menolak memberikan daftar produk yang bermasalah, pemerintah dengan sendirinya akan membudayakan sikap acuh tak acuh yang menjadi sasaran empuk pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, tetap membiarkan produk-produk tersebut beredar tidak akan memacu produsen untuk belajar memperbaiki kualitas produknya untuk konsumennya di negeri ini, dan hal ini sangat jauh dari tujuan mewujudkan kesejahteraan umum bagi masyarakat kita.
Tidak menarik produk-produk bermasalah dan membiarkan masyarakat umum untuk mengkonsumsi produk yang akan menimbulkan penyakit-penyakit diatas, berpotensi mengganggu kesehatan generasi selanjutnya yang tentunya, akan berpengaruh terhadap kecerdasan mereka di masa depan.
Dan dengan memilih untuk bungkam dan tidak melakukan tindakan apapun, pemerintah kita jelas telah melanggar ketertiban dunia yang berdasarkan keadilan sosial. Akibatnya malah akan merugikan rakyat banyak yang tidak tahu menahu akan soal itu. Dari kasus kecil seperti ini kita dapat belajar, betapa bangsa kita terlalu sering mentolerir kesalahan-kesalan kecil yang fatal akibatnya bagi generasi selanjutnya, padahal tidak ada salahnya mengakui kesalahan, bila dengan mengakui kesalahan itu, kita dapat menjadi bangsa yang lebih baik dari hari sebelumnya. Semoga!
Glosarium:
Enteritis : peradangan pada usus (abdomen)
Sepsis : keberadaan mikroorganisme patogen (berisiko menimbulkan penyakit) atau toksin (racun) dalam darah atau jaringan
Meningitis : peradangan pada selaput yang membungkus otak
Mencit : sejenis tikus yang biasa digunakan dalam menguji suatu perco
*neh..opini dbuat waktu masih zaman2x jd maba dulu..lg semangat2x jd mahasiswa y idealis...gyahahaha..
Belakangan ini kalangan ibu-ibu rumah tangga diresahkan oleh adanya berita yang berkembang mengenai keberadaaan bakteri sakazakii yang diduga mencemari susu formula dan makanan bayi yang banyak beredar di lingkungan masyarakat Indonesia. Keresahan ini berawal saat beberapa peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengumumkan hasil temuan mereka bahwa 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara April - Juni 2006 telah terkontaminasi Enterobacter sakazakii. Sampel makanan dan susu formula yang diteliti berasal dari produk lokal yang banyak beredar dipasaran.
Enterobacter sakazakii adalah bakteri gram negatif yang tahan panas dan tidak membentuk spora. Secara klinis, cemaran enterobacter sakazakii menimbulkan diare yang bila tidak diobati dapat menimbulkan dehidrasi dan dapat berakibat fatal pada kesehatan bayi dan anak balita. Bakteri ini juga ditemukan dapat menyebabkan enteritis, sepsis dan meningitis pada bayi mencit dan kemungkinan besar dapat juga menimbulkan hal yang serupa pada bayi dan anak balita yang mengkonsumsi makanan dan susu yang telah tercemari bakteri tersebut.
Melihat bahaya yang ditimbulkannya, sudah sepantasnyalah para orangtua cemas. Pasalnya, sampai saat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menolak untuk mengumumkan merek-merek produk susu formula dan makanan bayi yang beredar, BPOM menyatakan tidak akan menindaklanjuti temuan susu mengandung bakteri dengan berbagai macam alasan. Tindakan ini penulis rasa mencerminkan betapa para pemegang kekuasaan di negara kita lebih mementingkan harga diri dan nama baik instansi dari pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya. Padahal, saat kasus yang hampir serupa terjadi di Australia, pemerintah yang berwenang di sana segera mengumumkan daftar produk yang dicurigai agar masyarakat segera menghentikan penggunaan produk dan memberikan pelajaran berharga bagi produsen produk tersebut untuk lebih memperhatikan kualitas produknya. Pemerintah Australia justru lebih berkomitmen dalam ‘mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,’ sepenggal tujuan hidup bangsa Indonesia yang tercantum dalam paragraf ke empat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Dengan menolak memberikan daftar produk yang bermasalah, pemerintah dengan sendirinya akan membudayakan sikap acuh tak acuh yang menjadi sasaran empuk pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, tetap membiarkan produk-produk tersebut beredar tidak akan memacu produsen untuk belajar memperbaiki kualitas produknya untuk konsumennya di negeri ini, dan hal ini sangat jauh dari tujuan mewujudkan kesejahteraan umum bagi masyarakat kita.
Tidak menarik produk-produk bermasalah dan membiarkan masyarakat umum untuk mengkonsumsi produk yang akan menimbulkan penyakit-penyakit diatas, berpotensi mengganggu kesehatan generasi selanjutnya yang tentunya, akan berpengaruh terhadap kecerdasan mereka di masa depan.
Dan dengan memilih untuk bungkam dan tidak melakukan tindakan apapun, pemerintah kita jelas telah melanggar ketertiban dunia yang berdasarkan keadilan sosial. Akibatnya malah akan merugikan rakyat banyak yang tidak tahu menahu akan soal itu. Dari kasus kecil seperti ini kita dapat belajar, betapa bangsa kita terlalu sering mentolerir kesalahan-kesalan kecil yang fatal akibatnya bagi generasi selanjutnya, padahal tidak ada salahnya mengakui kesalahan, bila dengan mengakui kesalahan itu, kita dapat menjadi bangsa yang lebih baik dari hari sebelumnya. Semoga!
Glosarium:
Enteritis : peradangan pada usus (abdomen)
Sepsis : keberadaan mikroorganisme patogen (berisiko menimbulkan penyakit) atau toksin (racun) dalam darah atau jaringan
Meningitis : peradangan pada selaput yang membungkus otak
Mencit : sejenis tikus yang biasa digunakan dalam menguji suatu perco
*neh..opini dbuat waktu masih zaman2x jd maba dulu..lg semangat2x jd mahasiswa y idealis...gyahahaha..
Langganan:
Komentar (Atom)